Kamis, 09 Maret 2017

Benih Udang di Sulteng Masih Minim

KKPNews, Sulteng – Tingginya komoditas ikan dan udang di Sulawesi Tengah merupakan bentuk nyata potensial perikanan air payau yang dibuktikan dengan hamparan tambak di hampir setiap kabupaten. Dengan potensi perikanan payau seluas 42.095,15 Ha (DKP Provinsi Sulteng), Sulteng belum didukung oleh ketersediaan benih yang memadai. Hal ini sebabkan karena belum adanya usaha pembenihan ikan dan udang yang produktif di daerah ini, sehingga kebutuhan akan benih ikan bandeng (nener) dan benih udang (benur) masih di pasok dari daerah lain.
Kegiatan domestik tersebut menjadi pemandangan setiap hari di gudang cargo Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. Berdasarkan data yang tercatat pada stasiun karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan kelas I Palu, kebutuhan benih ikan dan udang dipasok dari daerah Surabaya, Denpasar dan Makassar.
Pada tahun 2015 jumlah nener yang dipasok melalui Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie sebanyak 16.996.000 ekor, sedangkan untuk komoditas benur sebanyak 129.781.000 ekor, yang terdiri dari vannamei sebanyak 112.785.000 ekor dan windu sebanyak 16.996.000 ekor dengan nilai komoditas sebesar Rp 4.403.310.000,-. Sedangkan di tahun 2016 ini jumlah nener yang di masukkan sebanyak 14.196.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 87 kali, untuk komoditas benur sebanyak 370.417.000 ekor terdiri dari vannamei sebanyak 362.827.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 555 kali dan windu sebanyak 7.590.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 59 kali dengan nilai komoditas sebesar Rp 11.680.350.000.
Di Sulawesi, udang windu memang masih dikembangkan oleh sejumlah petambak dengan teknologi tradisional dan produksinya hanya untuk memenuhi pasar-pasar lokal, restoran, dan perhotelan, tidak lagi berorientasi ke pemenuhan kebutuhan industri dan ekspor. Permasalahan utama dalam pemenuhan benih yang dirasakan oleh petani tambak adalah tingginya biaya operasional belum lagi tingkat kematian (mortalitas) yang tinggi akibat lamanya pengangkutan.
Ketersediaan benih yang terdiri dari kualitas dan kuantitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam usaha budidaya. Belum produktifnya usaha pembenihan nener dan benur disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kualitas air yang tidak sesuai, faktor sarana dan prasarana serta biaya produksi yang tinggi, sekitar 70% biaya produksi dihabiskan untuk pengadaan pakan.
Selain ketersedian benih, hal yang paling patut diwaspadai dalam usaha budidaya udang adalah serangan penyakit. Beberapa tahun terakhir, pemerintah dan pembudidaya udang dibuat waswas dengan adanya penyakit baru yang disebut Early Mortality Syndrome (EMS) atau Hepatopancreatic Acute Necrosis Syndrome (HANS). EMS merupakan jenis penyakit yang berasal dari bakteri Vibrio parahaemolyticus yang menyerang udang vannamei maupun udang windu. Bakteri tersebut masuk lewat mulut udang dan menyerang pencernaan udang. EMS merupakan salah satu penyakit mematikan dan paling ditakuti para pembudidaya udang, penyakit ini dapat mematikan budidaya udang secara massal, sekitar 40-100% pada umur 7-30 hari setelah penebaran.
Meskipun Indonesia tidak terkena wabah ini tetapi Indonesia tetap harus waspada karena beberapa negara tetangga seperti China, Vietnam, Thailand, Kamboja, India dan Malaysia sudah terkena wabah ini. Disarankan bagi para pembudidaya udang tetap harus berhati-hati untuk mencegah masuknya wabah EMS ini ke wilayah Indonesia utamanya di Sulawesi Tengah.
Upaya pembinaan dan pendampingan pembudidaya telah dilakukan secara komprehensif dan telah menunjukkan hasil yang nyata serta dapat memenuhi kubutuhan pangan lokal dan nasional. Dukungan dan dorongan pemerintah dalam usaha budidaya, terutama dalam bidang pembenihan dapat membantu menyejahterakan usaha pembudidayaan udang dan ikan di Sulawesi Tengah.
Sumber : KKP