Selasa, 29 November 2016

Menteri Andi Amran Minta Pengusaha Tingkatkan Produktifitas Kebun Rakyat

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman berpesan kepada pengusaha kelapa sawit di Indonesia agar meningkatkan produktifitas kebun rakyat.
Pesan itu disampaikan usai santap malam bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di The Westin, Nusa Dua, Rabu (23/11/2016) malam.
Dalam kesempatan itu, Mentan juga mengupayakan dukungan dana BPDP (CPO fund) yang perlu diperbesar porsinya untuk percepatan replanting.
“Mengenai replanting petani, kami akan programkan. Bahkan kami ada program integrasi sapi dengan sawit, dan jagung dengan sawit,” cetusnya.
Pengembangan integrasi jagung - sawit ini, kata dia, pada umur tanaman sawit di bawah 4 tahun.
Pada 2016, ditargetkan seluas 724 ribu hektare (Ha) jagung di lahan sawit dan hutan.
Kemudian petani jangung bermitra dengan GPMT/industri pakan ternak.
“Nah ada jagung gratis dan pupuk satu paket dari pemerintah untuk 1 juta Ha untuk seluruh Indonesia pada 2017. Replanting ini kami programkan, dan ada dana yang akan dipergunakan,” sebutnya.
Integrasi ini, jelas dia, diprioritaskan di lahan pertanian, setelah itu kalau ada lahan milik perusahaan swasta juga bisa.
“Ya daripada impor jagung, jauh lebih baik kalau produksi sendiri. Sekarang impor jagung sudah turun 60 persen. Ini baru setahun. Masalahnya kita ini langganan impor, padahal tanah subur. Kalau terjadi integrasi ini, kami akan menyerapnya dengan menyiapkan Bulog untuk membeli dengan harga Rp 3.150 per kg,” cetusnya.(*)

Sumber : tribun

Lampung Dapat Bantuan Lahan Jagung 55.000 Ha

Ilustrasi
Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Sepanjang tahun 2016, produksi jagung di Provinsi Lampung mengalami penurunan. Untuk mendokrak pertumbuhan produksi jagung di tahun 2017, pemerintah pusat akan memberikan lahan khusus seluas 55.000 hektare yang tersebar di 9 kabupaten/kota.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Lampung, Herlin, menyatakan jika lahan seluas 55.000 hektare diberikan oleh pemerintahan pusat melalui Menteri Pertanian.
Menurut dia, dari 724.000 hektare yang tersebar di seluruh Indonesia, Lampung mendapat 55.000 hektare. Harapannya, produksi jagung dapat kembali meningkat tahun 2017 sesuai arahan Menteri Pertanian.
“Jadi untuk tahun 2017, melalui anggaran APBN, Pemerintah Pusat memiliki target produksi jagung di Lampung harus meningkat mencapai 3 juta ton jagung dan mendukung kebijakan Swasembada pangan dan impor,” kata Herlin di Kantor Gubenur, Rabu (16/11/2016).
Masih kata dia, produksi jagung diharapkan bisa diimpor keluar daerah melalui kerjasama Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT).
“Di tingkat nasional Pak Menteri sudah bekerjasama dengan pihak GPMT, selanjutnya kita sudah menindak lanjuti beberapa waktu yang lalu dengan melakukan kerjasama. Yang jelas pada intinya jagung-jagung ini ketika sudah panen di tahun 2017 akan di beli oleh pihak GPMT dengan harga acuhan pemerintah yang sesuai dengan peraturan menteri,” terangnya.
Herlin mengaku optimis target untuk Provinsi Lampung bisa tercapai. Fakta menurunnya harga singkong, diharapkan membuat masyarakat beralih ke jagung.
Selain untuk impor, jagung Lampung akan bersaing dengan provinsi lain yang mampu memproduksi jagung dalam jumlah besar. (Bong)
Sumber : kupastuntas

Selasa, 08 November 2016

Pabrik Pakan Ikan Pertama Milik Pemerintah Dibangun di Medan

Pabrik Pakan Ikan Pertama Milik Pemerintah Dibangun di Medan

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membangun satu unit pabrik pakan ikan tahun depan di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara. Ini akan menjadi pabrik pakan ikan pertama milik pemerintah.

"Ini sebagai pilot project pertama. Kalau ini sukses, akan khusus untuk kebutuhan pakan di Sumatera dulu. Kalau ini bagus, nanti kita bangun lagi di Jawa, Kalimantan dan lain-lain," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (1/11/2016).

Keperluan pakan di Sumatera sendiri cukup besar, khususnya untuk ikan budi daya. Dari 60% ikan air tawar yang ada di Indonesia, 20% diantaranya ada di Sumatera. Hal ini membuktikan kehadiran pabrik pakan ini akan membantu pemenuhan kebutuhan pakan untuk ikan budidaya di Sumatera.

"Sehingga kalau kebutuhan pakan kita ada 5 juta ton secara nasional, 20% nya itu ada di Sumatera," tambahnya.

Dengan adanya pabrik pakan ini, diharapkan biaya produksi budi daya dari pakan akan turun sebesar Rp 3.000. Selain itu, ketergantungan terhadap pakan pabrikan juga bisa turun 30%.

Pabrik ini akan memproduksi pakan apung dengan kapasitas maksimal 3.000 ton/bulan. Sehingga dalam 1 tahun, pabrik ini bisa memproduksi 36.000 ton pakan apung. Dengan jumlah tersebut, diharapkan dapat memenuhi pakan kepada 27.600 ton ikan.

"Sekarang kita sedang melakukan feasibility study, terkait dengan bahan bakunya, market, tenaga dan lain-lain. Di sana bahan baku untuk pakan ada. Pasarnya juga kita survei untuk ikan air tawar, payau, laut di sana juga cukup banyak," tutur dia.

Slamet mengatakan, pabrik ini akan dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi, dan membutuhkan biaya sekitar Rp 27 miliar untuk fisik saja. Pengoperasian pabrik ini akan dilakukan bersama dengan salah satu BUMN perikanan di Indonesia, yakni Perum Perindo.

"Jadi ini yang pertama punya nya pemerintah. Karena selama ini, kalau pertanian kan punya BUMN pupuk. Di perikanan belum ada yang bergerak di benih, atau pakan. Jadi kita akan mulai itu," ungkapnya.

"Nanti operasional akan kita kerja samakan dengan BUMN. Karena BUMN perikanan belum ada yang menyentuh sarana produksi. Kita selama ini sudah ada pembicaraan dengan Perindo. Karena Perindo juga diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan BUMN yang bergerak di bidang perikanan budidaya," tukasnya. (hns/hns)

Sumber : detik

Wali Kota Gunungsitoli Meresmikan Usaha Pakan Ternak



Gunungsitoli | suarasumut.com — Wali Kota Gunungsitoli Ir.Lakhomizaro Zebua meresmikan Usaha Pakan Ternak (UPT) Semangat Baru milik pengusaha tionghoa di Kota Gunungsitoli bernama Bakhtiar.
Peresmian UPT Semangat Baru yang bertempat di Desa Teluk Belukar, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli, Kamis (3/11) ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita oleh Wali Kota Gunungsitoli dan Ketua TP.PKK Kota Gunungsitoli.
Pada acara peresmian UPT Semangat Baru, Wali Kota Gunungsitoli mengucapkan selamat berkarya kepada pemilik UPT Bakhtiar. Menurut Wali Kota, Bakhtiar sebagai pengelola UPT telah membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Pemerintah Kota Gunungsitoli senantiasa mendukung dan mengharapkan usaha yang dikelola Bakhtiar terus berkelanjutan dan semakin meningkat, serta dapat memicu pertumbuhan usaha usaha lainnya kelak. Dia juga berharap UPT milik Bakhtiar terus dikembangkan, dan produknya dapat dipasarkan keseluruh pelosok atau bahkan diluar Kepulauan Nias.
Ditempat yang sama, Bakhtiar selaku direktur utama UPT Semangat Baru menernagkan jika usaha yang dia geluti terinspirasi dari usaha ternaknya yang dimulai sejak tahun 2003. Dia kala itu sering mendapatkan kendala pengadaan pakan ternak yang dipesan dari luar daerah atau Medan dari segi pengongkosan dan kualitas.
Berawal dari kendala kendala tersebut, dia memutuskan untuk mendirikan UPT sendiri walau menggunakan peralatan seadanya. Hingga saat ini, UPT yang dia miliki terus diperbaharui mulai dari melengkapi peralatan dan kelengkapan usaha. Walau hanya memiliki mesin pengolah jagung berkapasitas 20 ton perhari, dia bersyukur UPT yang dia miliki bisa memproduksi pakan ternak 5 ton perhari dan di distribusikan ke seluruh wilayah Kepulauan Nias.
Tidak lupa dia berharap dukungan dari berbagai pihak, terlebih dari masyarakat setempat, baik itu dari segi usaha pertanian jagung atau pemasokan bahan baku produksi dan memanfaatkan peluang mengisi lapangan pekerjaan yang tersedia, serta sosialisasi akan keberadaan usaha yang dia kelola.
Sebelumnya, Kadis Perindagkop dan UMKM Abdul majid Chaniago dalam laporannya memberitahu, perintis UPT adalah Bakhtiar. Bakhtiar yang asli putera nias telah turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat Kota Gunungsitoli dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat.
Berdasarkan persetujuan Wali Kota Gunungsitoli, pabrik tersebut diresmikan, dan diharapkan produk pakan ternak dari pabrik tersebut dapat dipasarkan seluruh Kota Gunungsitoli, bahkan diluar Kepulauan Nias, dan pasokan jagung sebagai bahan baku produk ini dapat memanfaatkan hasil tani masyarakat atau warga setempat.(al/ss-gs)
Sumber : suarasumut

Senin, 15 Agustus 2016

Kementerian Perdagangan tetapkan harga jagung lokal

http://photo.kontan.co.id/photo/2016/08/12/1041623787p.jpg

JAKARTA. Pemerintah mulai menentukan harga jagung lokal sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), No. 21/m-dag/per/3/2016 tentang penetapan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani. Kementerian Perdagangan (Kemdag) menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Jagung lokal sebesar Rp 3.150 per kilogram (kg) dengan kadar air 15%.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kemtan) yang bertangunggjawab menentukan harga dasar jagung ditingkat petani, sampai saat ini belum memberi kepastian berapa harga yang diinginkan Kemtan. Untuk itu, Kemdag mengusulkan dengan HPP jagung Rp 3.150 per kg, maka harga dasar jagung yang ideal sebesar Rp 2.500 per kg di tingkat petani dengan kadar air 35%. 

Pertimbangan tersebut dikeluarkan Kemdag karena petani selama ini tidak memiliki mesin pengering yang mampu mencapai tingkat kekeringan 15%. Dengan penentuan harga jagung ini, maka petani mendapatkan kepastian harga. Bila harga dasar jagung Rp 2.500 per kg, makapetani masih untung, setelah mengeluarkan biaya transportasi dari perkebunan hingga sampai ke gudang pedagang besar. 

"Artinya, bila harga jagung di petani jatuh di bawah HPP, Perum Bulog wajib membeli," ujar Sekretaris Jenderal Kemdag Sri Agustina, akhir pekan lalu. Dengan patokan HPP jagung sebesar itu, Sri memprediksi maka harga jual jagung ke peternak berada di kisaran Rp 3.400 per kg hingga Rp 3.500 per kg.


Bisa kerek harga telur  

Koordinator Forum Peternak Layer Nasional (PLN), Ki Musbar mengatakan, pihaknya merupakan pengguna jagung pakan ternak terbesar kedua setelah industri pakan ayam yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) sebesar 700.000 ton per bulan. PLN membutuhkan jagung rata-rata 240.000 ton per bulan. 

Karena itu, PLN menyarankan agar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung sesuai dengan yang ditentukan Kemdag Rp 3.150 per kg. Sebab Musbar menilai ada keinginan dari asosiasi petani jagung menaikkan HPP dikisaran Rp 3.500 per kg. 

"Bila harga jagung naik Rp 500 per kg saja, maka akan berdampak pada kenaikan harga telur ayam sebesar Rp 1.000 - Rp 2.000 per kg," ujarnya kepada KONTAN, Minggu (14/8). 

Sumber : Kontan

Rabu, 01 Juni 2016

Pemerintah dan GPMT Targetkan Swasembada Jagung 2017

Dalam rangka menyerap produksi jagung di tingkat petani, Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Asosiasi Produsen Pakan Indonesia, yang sebelumnya dikenal dengan nama GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak). 
Foto bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
dengan penurus GPMT yang baru terpilih.
Sekretaris Jenderal GPMT, Desianto Budi Utomo mengatakan berdasarkan hasil pertemuan antara pihak asosiasi dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, impor jagung tahun depan ditargetkan ditekan hingga 0%. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung tujuan pemerintah dalam mencapai swasembada jagung yang ditargetkan dapat terealisasi pada tahun 2017 mendatang.
Pertemuan berlangsung diruang kerja Menteri Pertanian setelah sebelumnya Menteri Pertanian menyelenggarakan pertemuan koordinasi dengan para assosiasi untuk membahas ketersediaan dan stabilisasi harga bahan pangan pokok menjelang puasa dan lebaran tahun 2016 di ruang pola Kementerian Pertanian pada Senin (23/5/16).
“Pertemuan sangat kondusif dan kami menjalin babak baru dengan pak Menteri, bahwa pada prinsipnya kami in line dengan  program-program kedepan pak menteri khususnya upaya pak menteri agar kami mendukung target pemerintah tahun depan  bisa benar-benar impor jagung 0 % dapat terwujud”, jelas Desianto.
Data GPMT mencatat importasi jagung pada tahun 2014 mencapai sebesar 3,1 juta ton, sedangkan tahun 2015 ini ditekan sebesar 50% sehingga mencapai sekitar 1,2 - 1,5 juta ton. “Tahun ini kan sudah 50 persen dari tahun lalu jadi sudah sangat kondusif dan kita ingin mengembangkan jagung lokal. Kita ingin membantu petani, petani untung, nanti petani bisa mempunyai daya beli dan juga akan mendukung peningkatan konsumsi protein hewani”, tambahnya.
Menteri Pertanian mengatakan stock secara kebutuhan nasional saat ini tersedia untuk 1 (satu) bulan kedepan hingga pertengahan juni. Kondisi jagung saat ini kondusif. Kementerian Pertanian akan terus mengembangkan produksi jagung lokal. Harga dipasaran cukup baik berkisar antara Rp. 3.200 – Rp 3.450.
“Untuk Pak Menteri, kami siap untuk lebih bergandengantangan dengan tujuan untuk mensukseskan swasembada jagung khususnya, kita konsen terhadap peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional,” tegas Sekjen GPMT.
Suasana audiensi pengurus GPMT dengan Mentan Andi Amran Sulaiman berlangsung dinamis.
Sebelumnya Menteri Pertanian mengucapkan selamat dan sukses kepada GPMT yang telah melaksanakan kongres ke 13 beberapa waktu lalu di Bogor (19-21/5/16). Pertemuan tersebut sekaligus ajang perkenalan pengurus baru GPMT dihadapan Menteri Pertanian. Menteri Pertanian berpesan agar GPMT harus mensinergikan program kerja mereka dan mendukung terwujudnya target pemerintah untuk tahun depan tidak ada impor lagi.
“Saya ucapkan selamat kepada Saudaraku yang terpilih menjadi pengurus. Saya harap pengurus kedepan dapat mensinergikan program dan targetnya agar tahun depan tercapai impor jagung 0%,” ujar Menteri Pertanian.
Amran juga menyampaikan bahwa pemerintah meminta agar para pelaku usaha (produsen pakan) untuk dapat menjadi pionir dalam menyukseskan swasembada jagung melalui peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional. (wan) 
 
sumber : Infovet

Selasa, 24 Mei 2016

GPMT: Pertumbuhan Industri Pakan Ternak Di Bawah 8%

GPMT: Pertumbuhan Industri Pakan Ternak di Bawah 8% 

Bisnis.com, BOGOR- Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menggelar Kongres ke-13 pada Kamis s/d Sabtu di Rancamaya Bogor (19-21/5/2015). Kongres tersebut bertema Kepastian Ketersediaan Bahan Pakan untuk Menunjang Daya Saing.

Ketua GPMT Sudirman mengatakan keberadaan asosiasi tersebut bisa berkontribusi positif bagi perekonomian meskipun kondisi usaha pakan ternak di Tanah Air belum stabil.

"Kondisi pertumbuhan industri pakan ternak ini masih di bawah 8%. Oleh karena itu kami harus siap menghadapi era globalisasi," ujarnya di sela pembukaan kongres, Kamis (19/5/2015) malam.

Dia berharap dalam kongres tersebut dapat terpilih para pengurus andal yang mampu memajukan industri pakan ternak sehingga roda perekonomian di Indonesia terus berjalan ke arah positif.

Pihaknya juga berharap para pengurus GPMT yang baru mampu mengusung program kongkrit untuk perkembangan usaha dan juga kesejahteraan rakyat.

Dia mengisyaratkan para pengurus terpilih bisa mencapai impian pemerintah dan kalangan petani yakni mampu menekan impor yang selama ini dilakukan asosiasi tersebut.

"Tentu harapan tekan impor jagung ada. Tahun lalu impor 3 juta ton. Nah harapannya nanti harus ada upaya membantu pemerintah untuk swasembada jagung, sehingga ketergantungan impor semakin berkurang," paparnya.

Sudirman menambahkan pihaknya siap terus bekerja sama dengan pemerintah dalam mengatasi persoalan ketersediaan jagung, seiring saat ini pemerintah fokus terus menanam komoditas bahan pakan ternak tersebut.

"Saya ingin mengacungkan jempol pada Menteri Pertanian yang sudah gigih membuat anggaran khusus untuk jagung lebih dari Rp 3 triliun. Ini tentu harapannya swasembada jagung," ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Muladno menuturkan para pengurus GPMT terpilih nantinya harus bersinergi dengan pemerintah dan petani sehingga ketersediaan jagung dipastikan terpenuhi.

Selama ini, lanjutnya, pola komunikasi antara pengusaha pakan ternak, pemerintah dan petani kurang harmonis sehingga berdampak pada produksi jagung.

"Kami tak memaksa pengusaha untuk tekan impor, tetapi setidaknya harus ada sinergitas tinggi dengan pemerintah dan petani," ujarnya.

Dia memberi contoh, ketika Kementerian Pertanian melakukan kunjungan ke Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, pihaknya banyak belajar dengan Bupati Dompu yang sebelumnya tidak pernah menanam jagung.

"Tapi setelah bupatinya menjabat, dia tanam jagung di hampir semua lahan sehingga warganya banyak yang tanam. Nah maksud saya, ini juga bisa diadopsi oleh pengusaha pakan, jadi jangan terlalu andalin pemerintah," paparnya.

Sumber : Bisnis