Senin, 19 Juni 2017

Logo GPMT

Pemberitahuan...

Karena banyaknya instansi yang menggunakan logo GPMT yang salah dan juga bila melakukan browsing di internet juga banyak muncul logo GPMT yang salah, maka dengan ini kami sampaikan bahwa logo GPMT yang benar adalah ini.
















sedangkan logo yang dibawah ini salah (biasanya muncul bila browsing di internet).

Terima kasih atas perhatiannya.

Rabu, 07 Juni 2017

Pakan Mandiri BBPBAP Jepara Siap Bersaing Kualitas

Jepara- Tahun ini BBPBAP Jepara menargetkan bantuan pakan mandiri sebanyak 40 ton pada kelompok pembudidaya di sentra budidaya lele (kampong lele) Kabupaten Boyolali. Sebelumnya pihaknya juga telah mendistribusikan bantuan pakan sebanya 6 ton di berbagai daerah seperti Banjarnegara dan Boyolali
Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo, mengungkapkan bahwa rahasia kualitas pakan ada pada formulasi yang digunakan. Menurutnya, tantangan pakan adalah bagaimana menjamin agar efsiensi pakan bisa ditingkatkan atau rasio konversi pakan (food conversion ratio) bisa ditekan. “Kami berhasil menyusun sebuah formulasi dengan penambahan enzyme untuk meningkatkan kecernaan pakan. Ini penting agar pakan lebih banyak dimanfaatkan untuk pertumbuhan ikan,” ungkap Sugeng sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, pekan lalu.
Sebagaimana diketahui, pabrik pakan BBPBAP Jepara disetting memiliki kapasitas produksi hingga 400 kg per jam. Melalui para ahli nutrisi yang dimiliki, produk pakan telah terbukti memiliki performance kualitas yang baik, hal ini dibuktikan dengan respon masyarakat pembudidaya yang menyatakan puas atas kinerja pakan yang digunakan. “Kami terus berupaya melakukan uji terap sekaligus evaluasi terhadap performance dan respon pembudidaya terhadap penggunaan pakan produk balai ini,” jelas Sugeng.
Yang menggembirakan, saat ini produk pakan BBPBAP Jepara juga telah mendapat respon positif dari pembudidaya lele di Kampung Lele Boyolali. Sebagaimana diakui Sri Widodo salah seorang pembudidaya lele, bahwa pakan BBPBAP Jepara justru tidak kalah kualitas dengan pakan pabrikan.
“Kami telah buktikan bahwa pakan produksi BBPBAP Jepara kualitasnya sama dengan pabrikan, justru kami mendapatkan nilai tambah karena harganya cenderung lebih murah. Dengan FCR mencapai 0,7-0,8, kami mampu meraup nilai tambah keuntungan hingga 3.000 rupiah per kg,” ungkap Widodo.
Begitupun sebagaimana diakui Dr. Fajar Basuki, bahwa pakan produk BBPBAP Jepara memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan pakan pabrikan. Menurutnya ini dibuktikan setelah digunakan untuk pembesaran lele sisitim bioflok, dimana pakan yang digunakan memberikan respon terhadap pertumbuhan yang baik dengan FCR sekitar 0,8.
Saat meninjau langsung pabrik pakan milik BBPBAP Jepara, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengungkapkan harapannya agar produk pakan UPT mampu memberikan dampak positif bagi pengembangan usaha budidaya. Apalagi menurutnya, UPT sebagai ladang perekayasaan, tentunya akan menjadi andalan dalam menciptakan inovasi bidang nutrisi yang secara langsung mampu meningkatkan efisiensi pakan.
Slamet mengemukakan bahwa pengembangan pakan mandiri saat ini menjadi kebutuhan mendesak dalam upaya menorong usaha budidaya yang efisien. Selain pengembangan pakan mandiri di level masyarakat, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya juga tengah melakukan revitalisasi miniplan pakan mandiri yang tersebar di 10 (Sembilan) UPT lingkup Ditjen Perikanan Budidaya yaitu di Jepara, Aceh, Situbondo, Lampung, Sukabumi, Karawang, Tatelu Minahasa, Mandiangin, Jambi, dan Lombok.
Menurutnya, pakan Mandiri memiliki segmen tersendiri yaitu menyasar pembudidaya ikan skala kecil. Dengan performance pakan yang layak sesuai standar mutu, produksi pakan mandiri ini telah mampu menekan cost produksi budidaya hingga > 30% dan margin keuntungan pembudidaya meningkat. Melalui penggunaan pakan mandiri pembudidaya diharapkan mendapatkan nilai tambah pada kisaran Rp.3.000 – Rp. 4.000 per kg hasil produksi.
Disela-sela kunjungannya, Slamet juga menyempatkan memberikan batuan dari KKP secara simbolis untuk mendukung pengembangan budidaya ikan di Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bantuan tersebut masing-masing : Nauplius udang vaname sebanyak 100 juta ekor kepada kelompok HSRT di Jepara; bantuan pakan mandiri sebanyak 25 ton bagi kelompok pembudidaya lele di Kabupaten Boyolali; bantuan benih udang windu sebanyak 1,6 juta ekor bagi kelompok pembudidaya udang di Kabupaten Demak; bantuan benih bandeng sebanyak 400 ribu ekor bagi kelompok pembudidaya di Kabupaten Pekalongan; bantuan benih udang vaname 1,4 juta ekor bagi kelompok pembudidaya di Kabupaten Demak dan Cirebon; bantuan bibit rumput laut sebanyak 8 ton bagi kelompok pembudidaya di Kabupaten Demak; dan bantuan benih nila salin sebanyak 150 ribu ekor bagi kelompok pembudidaya di Kabupaten Purworejo.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, Indonesia saat ini memiliki peluang lebih besar dalam memasok pangsa pasar udang dunia, mengingat potensi pengembangan yang masih besar. Dalam merebut peluang tersebut, maka ketersediaan benur berkualitas menjadi keniscayaan yang harus terpenuhi dan tentunya mampu menjangkau sentral-sentral produksi udang nasional.
Dirjen Slamet Soebjakto menegaskan pentingnya membangun mata rantai proses produksi secara terintegrasi. Untuk itu, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya tengah menata sistem logistik perbenihan melalui pembangunan naupli center yang ke depannya diharapkan akan menjangkau sentral-sentral produksi udang.
Sumber : Neraca

Dinas Kelautan Pangandaran Dapat Bantuan 2000 kilogram Pakan Ikan

Dinas Kelautan Pangandaran Dapat Bantuan 2000 kilogram Pakan Ikan
Bantuan pakan ikan mandiri yang diberikan KKP RI kepada kelompok pembudidaya ikan di Pangandaran. Foto: Entang Saeful Rachman/HR
Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-
Kementrian Kelautan dan Perikanan RI kembali memberikan bantuan ke Dinas Kelautan Kabupaten Pangandaran berupa pakan ikan sebanyak 2000 kilogram yang diberikan melalui Direktorat Jenderal Budidaya KKP.
Menurut Sekretaris Dinas Kelautan Kabupaten Pangandaran, Wawan Kustiaman, bantuan dari KKP tersebut diperuntukkan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) yang ada di Kabupaten Pangandaran, yakni Pokdakan Kawungsari Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, Pokdakan Mina Barokah Desa Bagolo Kecamatan Kalipucang dan Pokdakan Tirto Bahari Desa Mangunjaya Kecamatan Mangunjaya.
“Dengan adanya bantuan tersebut yang disalurkan melalui kami diharapkan para kelompok budidaya ikan bisa lebih meningkatkan hasilnya,” tegas Wawan kepada HR Online, Senin (29/05/2017) lalu.
Pokdakan yang menerima bantuan tersebut, kata Wawan, merupakan kelompok perikanan binaan dari  DKPKP dan Penyuluh Perikanan Kabupaten Pangandaran. Sementara itu, fungsi bantuan tersebut guna mendorong penyebarluasan pakan ikan mandiri yang mana diproduksi oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB yang ada di masyarakat.
“Jadi pakan ikan mandiri ini sudah sesuai dengan SNI. Sehingga tidak kalah dengan pakan yang diproduksi perusahaan swasta maupun pakan pabrikan,” pungkasnya.
Sementara itu, Tata, Kabid Perikanan dan Budidaya Dinas Kelautan Kabupaten  Pangandaran, mengatakan, dengan adanya bantuan tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi para pembudidaya agar usahanya lebih maju.
“Jadi mereka dengan bantuan itu mereka lebih terpacu untuk mengembangkan usahanya yang mana pada akhirnya mereka lebih mandiri yang berkelanjutan,” singkatnya.
Sumber : harapanrakyat

Stok Jagung Masih Sulit Diakses

Bisnis.com, JAKARTA - Kisruh jagung belum juga usai. Tidak saja peternak layer yang masih sulit mengakes jagung lokal, tetapi juga Bulog yang diberi penugasan oleh pemerintah untuk menyediakan stok jagung. Padahal, Kementerian Pertanian mengklaim produksi jagung lokal mengalami surplus.
Direktur Komersial Bulog Febriyanto menyebut stok jagung di gudang Bulog saat ini sebanyak 111 ton, jauh dari kebutuhan jagung peternak unggas rakyat sebesar 200.000 ton per bulan.
Selama Januari-Mei, Bulog menyerap jagung lokal dari petani sebanyak 242 ton, dan sebagian telah terjual ke peternak UMKM.
Febriyanto menyampaikan Bulog terus berupaya mengoptimalkan jaringan produsen jagung lokal di sejumlah daerah. Meski demikian, Bulog masih sulit mengakses jagung di sentra-sentra produksi.
Diakuinya, seringkali wilayah sentra jagung justru tidak didukung infrastruktur. Febri mencontohkan suatu kali Bulog terkendala menyerap jagung dari pedalaman Sulawesi karena tidak tersedia jalur transportasi di wilayah tersebut.
"Kami hanya minta dibantu, ada dimana jagung itu," tuturnya dalam diskusi Kontroversi Jagung yang diselenggarakan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi di Jakarta, Selasa (23/5).
Presiden Peternak Layer Nasional Musbar menjelaskan sulitnya memperoleh jagung sebagai bahan baku pakan ternak unggas terjadi sejak 2015, seiring langkah pemerintah memperketat impor jagung. Bahkan di tingkat bawah, peternak layer harus berkompetisi dengan Gabungan Peternak Makan Ternak (GPMT).
Peternak layer membutuhkan jagung sebagai bahan baku pakan ternak sebesar 200.000 per bulan, atau sepertiga dari kebutuhan jagung GPMT sebesar 600.000-700.000 per bulan.
Sumber : Bisnis

Kelanjutan Proyek Pakan Ternak Kita Perum Bulog Terancam

Bisnis.com, JAKARTA - Kelanjutan proyek Pakan Ternak Kita yang diinisiasi oleh Perum Bulog terancam lantaran tingginya harga bahan baku pakan seperti jagung.
Proyek yang bertujuan untuk menekan harga pakan unggas yang tinggi digelar Bulog dengan menggandeng CV Cipta Cahaya Perwiratama --yang tugasnya mendistribusikan pakan ternak murah masih terbatas di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat-- dengan investasi Rp240 juta.
Dengan proyek ini, para peternak UMKM dan mandiri akan mendapatkan harga pakan maksimal Rp6.100 per kg untuk broiler dan Rp4.500 - Rp4.600 per kg untuk layer. Harga ini lebih rendah dari harga di pabrik pakan ternak yang mencapai Rp6.700 per kg.
Namun, harga murah itu sulit diperoleh jika menggunakan jagung lokal. Lantaran, harga jagung lokal per kilogram Rp4.700, sedangkan harga jagung impor bisa Rp3.700. Selain itu, kualitas antara jagung lokal dan impor berbeda. Impor bisa di bawah 16%, sedangkan jagung lokal di atas 16%.
Dalam uji coba pertama yang menggunakan 24.000 ton jagung sisa impor tahun lalu, proyek itu menghasilkan 45.000 ton pakan ternak.
Kualitas turun
Perwakilan CV Cipta Cahaya Perwiratama Cecep M Wahyudin mengatakan kualitas pakan ternak belakang ini menurun karena penggunaan jagung lokal dengan kadar air di atas 16% dan harga jagung di tingkat petani pun mahal.
Sementara itu, kata dia, jagung impor memiliki kualitas lebih baik dan harga lebih murah. Harga murah jagung impor itu, dapat menekan biaya produksi pakan ternak menjadi lebih murah.Harga pakan yang murah dapat membantu peternak mandiri dan UMKM bersaing dengan para integrator.
Harga jagung lokal lebih mahal karena ada di berbagai sumber. "Sementara jagung impor sudah tersentral di suatu kawasan, sehingga bisa lebih murah," tuturnya dalam sosialisasi pakan ternak kepada para peternak mandiri dan UMKM di Bulog, pada Selasa (16/5/2017).
Menurut dia, Pakan Ternak Kita ditargetkan menjadi pakan alternatif bagi usaha peternakan unggas. Dengan harga pakan yang murah, akan menekan biaya produksi lantaran biaya pakan berkontribusi 70% pada biaya produksi unggas.
Untuk tahap awal, CV Cipta Cahaya Perwiratama menginvestasikan Rp270 juta untuk produksi 45.000 ton pakan ternak, yang produksinya dilakukan oleh PT Gold Coin Indonesia dan PT QL Agrofood. "Keberlanjutan pilot project ini akan sangat bergantung dalam tiga bulan ini. Apakah ada animo besar dari para peternak atau tidak," katanya.
Sumber : Bisnis

Rabu, 15 Maret 2017

GPMT mengadakan Diskusi Panel, "Fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB)" di Ruang Rapat Utama Gedung C Lantai 6, Kantor Kementerian Pertanian RI.

Acara Diskusi Panel yang diadakan oleh GPMT dengan judul "Fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB)", yang diadakan pada hari Senin, 13 Maret 2017, di Ruang Rapat Utama Gedung C Lantai 6, Kantor Kementerian Pertanian RI.
Dalam acara ini juga dilakukan pemberian Sertifikat hasil audit Cara Produksi Pakan yang Baik (CPPB) tahun 2015 dan 2016 kepada 17 perusahaan pakan ternak yang diserahkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.
Diskusi panel ini diakhiri dengan pemberian cinderamata berupa plakat kepada Narasumber yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum GPMT, Bapak Desianto B. Utomo.
1_1
2_1
3
4
5
 cppb 1
 cppb2
narsum
Sumber : GPMT

Kamis, 09 Maret 2017

Benih Udang di Sulteng Masih Minim

KKPNews, Sulteng – Tingginya komoditas ikan dan udang di Sulawesi Tengah merupakan bentuk nyata potensial perikanan air payau yang dibuktikan dengan hamparan tambak di hampir setiap kabupaten. Dengan potensi perikanan payau seluas 42.095,15 Ha (DKP Provinsi Sulteng), Sulteng belum didukung oleh ketersediaan benih yang memadai. Hal ini sebabkan karena belum adanya usaha pembenihan ikan dan udang yang produktif di daerah ini, sehingga kebutuhan akan benih ikan bandeng (nener) dan benih udang (benur) masih di pasok dari daerah lain.
Kegiatan domestik tersebut menjadi pemandangan setiap hari di gudang cargo Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. Berdasarkan data yang tercatat pada stasiun karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan kelas I Palu, kebutuhan benih ikan dan udang dipasok dari daerah Surabaya, Denpasar dan Makassar.
Pada tahun 2015 jumlah nener yang dipasok melalui Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie sebanyak 16.996.000 ekor, sedangkan untuk komoditas benur sebanyak 129.781.000 ekor, yang terdiri dari vannamei sebanyak 112.785.000 ekor dan windu sebanyak 16.996.000 ekor dengan nilai komoditas sebesar Rp 4.403.310.000,-. Sedangkan di tahun 2016 ini jumlah nener yang di masukkan sebanyak 14.196.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 87 kali, untuk komoditas benur sebanyak 370.417.000 ekor terdiri dari vannamei sebanyak 362.827.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 555 kali dan windu sebanyak 7.590.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 59 kali dengan nilai komoditas sebesar Rp 11.680.350.000.
Di Sulawesi, udang windu memang masih dikembangkan oleh sejumlah petambak dengan teknologi tradisional dan produksinya hanya untuk memenuhi pasar-pasar lokal, restoran, dan perhotelan, tidak lagi berorientasi ke pemenuhan kebutuhan industri dan ekspor. Permasalahan utama dalam pemenuhan benih yang dirasakan oleh petani tambak adalah tingginya biaya operasional belum lagi tingkat kematian (mortalitas) yang tinggi akibat lamanya pengangkutan.
Ketersediaan benih yang terdiri dari kualitas dan kuantitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam usaha budidaya. Belum produktifnya usaha pembenihan nener dan benur disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kualitas air yang tidak sesuai, faktor sarana dan prasarana serta biaya produksi yang tinggi, sekitar 70% biaya produksi dihabiskan untuk pengadaan pakan.
Selain ketersedian benih, hal yang paling patut diwaspadai dalam usaha budidaya udang adalah serangan penyakit. Beberapa tahun terakhir, pemerintah dan pembudidaya udang dibuat waswas dengan adanya penyakit baru yang disebut Early Mortality Syndrome (EMS) atau Hepatopancreatic Acute Necrosis Syndrome (HANS). EMS merupakan jenis penyakit yang berasal dari bakteri Vibrio parahaemolyticus yang menyerang udang vannamei maupun udang windu. Bakteri tersebut masuk lewat mulut udang dan menyerang pencernaan udang. EMS merupakan salah satu penyakit mematikan dan paling ditakuti para pembudidaya udang, penyakit ini dapat mematikan budidaya udang secara massal, sekitar 40-100% pada umur 7-30 hari setelah penebaran.
Meskipun Indonesia tidak terkena wabah ini tetapi Indonesia tetap harus waspada karena beberapa negara tetangga seperti China, Vietnam, Thailand, Kamboja, India dan Malaysia sudah terkena wabah ini. Disarankan bagi para pembudidaya udang tetap harus berhati-hati untuk mencegah masuknya wabah EMS ini ke wilayah Indonesia utamanya di Sulawesi Tengah.
Upaya pembinaan dan pendampingan pembudidaya telah dilakukan secara komprehensif dan telah menunjukkan hasil yang nyata serta dapat memenuhi kubutuhan pangan lokal dan nasional. Dukungan dan dorongan pemerintah dalam usaha budidaya, terutama dalam bidang pembenihan dapat membantu menyejahterakan usaha pembudidayaan udang dan ikan di Sulawesi Tengah.
Sumber : KKP