Rabu, 15 Maret 2017

GPMT mengadakan Diskusi Panel, "Fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB)" di Ruang Rapat Utama Gedung C Lantai 6, Kantor Kementerian Pertanian RI.

Acara Diskusi Panel yang diadakan oleh GPMT dengan judul "Fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB)", yang diadakan pada hari Senin, 13 Maret 2017, di Ruang Rapat Utama Gedung C Lantai 6, Kantor Kementerian Pertanian RI.
Dalam acara ini juga dilakukan pemberian Sertifikat hasil audit Cara Produksi Pakan yang Baik (CPPB) tahun 2015 dan 2016 kepada 17 perusahaan pakan ternak yang diserahkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.
Diskusi panel ini diakhiri dengan pemberian cinderamata berupa plakat kepada Narasumber yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum GPMT, Bapak Desianto B. Utomo.
1_1
2_1
3
4
5
 cppb 1
 cppb2
narsum
Sumber : GPMT

Kamis, 09 Maret 2017

Benih Udang di Sulteng Masih Minim

KKPNews, Sulteng – Tingginya komoditas ikan dan udang di Sulawesi Tengah merupakan bentuk nyata potensial perikanan air payau yang dibuktikan dengan hamparan tambak di hampir setiap kabupaten. Dengan potensi perikanan payau seluas 42.095,15 Ha (DKP Provinsi Sulteng), Sulteng belum didukung oleh ketersediaan benih yang memadai. Hal ini sebabkan karena belum adanya usaha pembenihan ikan dan udang yang produktif di daerah ini, sehingga kebutuhan akan benih ikan bandeng (nener) dan benih udang (benur) masih di pasok dari daerah lain.
Kegiatan domestik tersebut menjadi pemandangan setiap hari di gudang cargo Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. Berdasarkan data yang tercatat pada stasiun karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan kelas I Palu, kebutuhan benih ikan dan udang dipasok dari daerah Surabaya, Denpasar dan Makassar.
Pada tahun 2015 jumlah nener yang dipasok melalui Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie sebanyak 16.996.000 ekor, sedangkan untuk komoditas benur sebanyak 129.781.000 ekor, yang terdiri dari vannamei sebanyak 112.785.000 ekor dan windu sebanyak 16.996.000 ekor dengan nilai komoditas sebesar Rp 4.403.310.000,-. Sedangkan di tahun 2016 ini jumlah nener yang di masukkan sebanyak 14.196.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 87 kali, untuk komoditas benur sebanyak 370.417.000 ekor terdiri dari vannamei sebanyak 362.827.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 555 kali dan windu sebanyak 7.590.000 ekor dengan frekuensi pemasukan 59 kali dengan nilai komoditas sebesar Rp 11.680.350.000.
Di Sulawesi, udang windu memang masih dikembangkan oleh sejumlah petambak dengan teknologi tradisional dan produksinya hanya untuk memenuhi pasar-pasar lokal, restoran, dan perhotelan, tidak lagi berorientasi ke pemenuhan kebutuhan industri dan ekspor. Permasalahan utama dalam pemenuhan benih yang dirasakan oleh petani tambak adalah tingginya biaya operasional belum lagi tingkat kematian (mortalitas) yang tinggi akibat lamanya pengangkutan.
Ketersediaan benih yang terdiri dari kualitas dan kuantitas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam usaha budidaya. Belum produktifnya usaha pembenihan nener dan benur disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kualitas air yang tidak sesuai, faktor sarana dan prasarana serta biaya produksi yang tinggi, sekitar 70% biaya produksi dihabiskan untuk pengadaan pakan.
Selain ketersedian benih, hal yang paling patut diwaspadai dalam usaha budidaya udang adalah serangan penyakit. Beberapa tahun terakhir, pemerintah dan pembudidaya udang dibuat waswas dengan adanya penyakit baru yang disebut Early Mortality Syndrome (EMS) atau Hepatopancreatic Acute Necrosis Syndrome (HANS). EMS merupakan jenis penyakit yang berasal dari bakteri Vibrio parahaemolyticus yang menyerang udang vannamei maupun udang windu. Bakteri tersebut masuk lewat mulut udang dan menyerang pencernaan udang. EMS merupakan salah satu penyakit mematikan dan paling ditakuti para pembudidaya udang, penyakit ini dapat mematikan budidaya udang secara massal, sekitar 40-100% pada umur 7-30 hari setelah penebaran.
Meskipun Indonesia tidak terkena wabah ini tetapi Indonesia tetap harus waspada karena beberapa negara tetangga seperti China, Vietnam, Thailand, Kamboja, India dan Malaysia sudah terkena wabah ini. Disarankan bagi para pembudidaya udang tetap harus berhati-hati untuk mencegah masuknya wabah EMS ini ke wilayah Indonesia utamanya di Sulawesi Tengah.
Upaya pembinaan dan pendampingan pembudidaya telah dilakukan secara komprehensif dan telah menunjukkan hasil yang nyata serta dapat memenuhi kubutuhan pangan lokal dan nasional. Dukungan dan dorongan pemerintah dalam usaha budidaya, terutama dalam bidang pembenihan dapat membantu menyejahterakan usaha pembudidayaan udang dan ikan di Sulawesi Tengah.
Sumber : KKP

CPRO Bidik Produksi Pakan Naik 7% Pada 2017

CPRO bidik produksi pakan naik 7% pada 2017
JAKARTA. PT Central Proteina Prima (CPRO) Tbk menargetkan produksi pakan tahun ini sebesar 640.000 ton. Target produksi ini naik 7% dibandingkan realisasi produksi pakan tahun 2016 sebesar 595.000 ton. Dari target produksi itu, produksi pakan ikan menyumbang 490.000 ton dan 150.000 ton pakan udang.
Division Head of Corporate Communication CPRO Frahma Alamiarso mengatakan, produksi pakan tahun 2016 melampau target yang ditentukan sebesar 570.000 ton. Karena itu, pada tahun ini, pihaknya optimistis permintaan pakan akan meningkat.
"Kenaikan permintaan pakan ini tak terlepas dari upaya penerapan teknologi terbaru di sejumlah tambak perikanan budidaya sehingga mempercepat masa panen ikan," ujarnya, Selasa (28/2).
Menurutnya, penerapan metodologi dengan teknis budidaya yang baru bisa mempercepat masa panen. Biasanya kalau dalam satu periode selama empat bulan, terjadi panen satu kali, tapi dengan adanya teknologi, panen bisa terjadi tiga kali.
Frahma bilang teknologi baru ini juga mendorong terjadinya efisiensi penggunaan pakan. Salah satunya dengan memberikan ruang yang mendukung bagi peternakan ikan sehingga memungkinkan ikan dapat berkembang lebih cepat.
Selain itu, Frahma bilang, CPRO juga telah mengubah pola kemitraan perusahaan dengan peternak plasma. Jika sebelumnya CPRO masih terikat kontrak untuk terus menyuplai pakan kepada peternak, tapi sekarang, CPRO telah menerapkan sistem baru dengan mendorong para petani lebih mandiri. Artinya, mereka tidak wajib lagi membeli pakan dari CPRO dan juga bisa menjual hasil budidaya mereka ke perusahaan lain.
Kendati telah memutus sistem kerja sama kemitraan, tapi Frahma bilang, CPRO tetap berkomitmen memberikan bimbangan teknis kepada para petani. Sebab bila peternak perikanan budidaya terus berkembang, maka akan mendorong peningkatan permintaan pakan juga.
Selain menjual pakan ikan, Frahma menyebut, pihaknya juga rutin menjual udang segar ke mancanegara, baik dalam bentuk beku maupun segar. Selain ekspor,CPRO juga rutin memasok udang hasil olahan ke sejumlah supermarket, restoran dan hotel mewah di DKI Jakarta.
Sumber : kontan

Harga Telur Ayam Anjlok Ditengarai Tiga Hal Ini

Harga telur ayam anjlok ditengarai tiga hal ini
JAKARTA. Dalam tiga bulan terakhir para peternak ayam petelur (layer) mengeluhkan penurunan harga telur ayam yang drastis. Bila sebelumnya harga telur ayam mencapai Rp 18.000 - Rp 19.000 per kilogram (kg) di tingkat peternak, kini anjlok di kisaran Rp 13.500 per kg.  Sementara, harga pakan ternak naik seiring dengan melonjaknya harga jagung.
Koordinator Forum Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan harga telur jatuh dan sulit bangkit kembali. Pertama adalah penurunan permintaan telur dari industri, baik itu industri makanan dan minuman maupun industri pembuat kue. Padahal industri ini menyerap sekitar 30% produksi telur nasional. Ditengarai permintaan telur dari sektor industri yang berkurang hingga 20% karena masuknya tepung telur.
Kedua, meningkatnya impor tepung telur ke Indonesia yang diimpor industri dari Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara lainnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor telur Januari-November 2016 lalu saja mencapai US$ 13,97 juta. Nilai tersebut naik drastis dibandingkan nilai impor tepung telur pada tahun 2015 sebesar US$ 5,91 juta.
Ketiga, anjloknya harga ayam di pasar membuat permintaan bibit ayam atawa day old chick (DOC) berkurang. Ini membuat industri unggas melepas telur yang seharusnya menjadi DOC ke pasar telur konsumsi dengan harga lebih murah. "Mereka bisa menjualnya lebih murah sekitar Rp 3.000 - Rp 4.000 per kg daripada harga telur biasa," ujar Musbar kepada KONTAN, Rabu (8/3).
Menurut Musbar rata-rata produksi telur saat ini mencapai 7.200 ton per hari. Produksi telur tersebut lebih rendah dari pada kondisi normal yang mencapai 7.600 per ton.  
Sumber : kontan

Jumat, 03 Februari 2017

Permudah Impor Produk Perikanan Indonesia, KKP Tingkatkan Kerja Sama dengan Uni Eropa

Menteri Susi Pudjiastuti berfoto bersama Vincent Guerend, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia di Kediaman Dinas MKP, Jakarta Selatan (25/01). (dok.humas KKP / Joko Siswanto)


KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti didampingi Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Nilanto Perbowo bertemu dengan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend pada Rabu 25 Januari lalu.
Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang peningkatan kerja sama antara Indonesia dengan Uni Eropa. Salah satunya tentang pemasaran hasil perikanan Indonesia ke pasar Uni Eropa. Dalam hal ini dibahas tentang pengawalan menyeluruh terhadap kepentingan Indonesia, terutama di sektor kelautan dan perikanan agar dibahas dalam setiap proses perundingan IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement), sehingga ke depannya tidak terdapat hambatan, baik dari sisi tarif maupun non tarif bagi perluasan akses pasar produk kelautan dan perikanan.
Adapun usulan kerja sama ke depan adalah pertukaran data dan informasi tentang Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI) antar otoritas kompeten Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Uni Eropa serta dukungan capacity building dalam rangka peningkatan validitas pelaksanaan SHTI di Indonesia serta peningkatan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.
Saat ini kerja sama bidang kelautan dan perikanan RI-Uni Eropa telah fokus pada perdagangan hasil perikanan. Uni Eropa menjadi tujuan pasar ekspor Indonesia yang potensial setelah Amerika Serikat dan Jepang. Komoditas yang diekspor adalah udang, TTC (tuna, tongkol dan cakalang), rumput laut, kepiting/rajungan, ikan hias, sotong dan gurita.
Pertemuan antara Menteri Susi dengan Dubes Vincent juga membahas acara World Ocean Summit ke-4 yang akan diselenggarakan di Sofitel Bali Nusa Indah pada 22-24 Februari 2017 mendatang. 
Sumber : KKP

Rabu, 25 Januari 2017

Mentan Amran Marah Pengepul Beli Murah Jagung Petani


Merdeka.com - Menteri Pertanian, Amran Sulaiman melakukan panen padi dan percepatan tanam padi di Desa Pulo, Blora, Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut, Amran juga melakukan pengecekan harga hasil panen petani yaitu gabah dan jagung.

Mentan Amran tiba-tiba kesal mengetahui hasil panen jagung petani dibeli di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Hal tersebut disampaikan oleh Jamini. Wanita 44 tahun tersebut mengatakan, hasil panen jagungnya dibeli oleh pengepul di bawah HPP yaitu Rp 2.500.

"Ini mana Bulog? Bukan direkturnya, petugas lapangan Bulog mana? Tidak boleh ini jagung harganya murah begini. Beli minimal Rp 3.100. Tidak boleh petani dikibuli terus. Saya perintahkan beli sesuai HPP, Rp 3.100," kata Mentan Amran di Kawasan Pertanian Desa Pulo, Blora, Jawa Tengah, Selasa (24/1). Mentan Amran meminta petani menjual hasil panen ke Bulog.

Menteri Amran meminta Jamini menyebutkan siapa orang yang membeli jagung hasil panennya di bawah HPP. Setelah Jamini memberitahu, Mentan Amran memerintahkan Wakapolres Blora untuk menelusuri orang yang membeli harga panen Jamini di bawah HPP.

"Coba itu Wakapolres cari orangnya. Bawa ke kantor polisi, tapi jangan dipenjarakan. Diselesaikan secara adat, ditanya dulu kenapa dia belinya murah. Tapi ini tidak boleh lagi ya," ujar Mentan Amran.

Atas kejadian yang dialami oleh Jamini, Mentan Amran memberikan bantuan hand tractor secara gratis. Amran berharap dengan bantuan hand tractor, Jamini dapat meningkatkan produksi hasil taninya.

"Ini traktor buat ibu. Langsung bawa pulang ya. Nanti bantuan yang buat Blora saya ganti. Tapi karena ini bantuan pemerintah, nanti kalau ada tetangga yang pinjam dikasih ya. Kalau perlu sewa, bayar setengahnya saja," ungkapnya.

Sumber : Merdeka.com